Di bolak-balik bagaimana pun saya kok tetap tidak yakin ya? Ada saja bagian yang bisa disangkal dan dielak, ujungnya tidak yakin juga. Baiklah, saya tahu betul bahwa kebenaran dan pembenaran adalah dua hal yang berbeda, tapi jujur saja ini terasa seperti menyaksikan orang dalam saputan kabut. Tidak jelas. Lalu saya dipaksa untuk yakin? Maaf, saya tidak bisa. Akal hanya akan tunduk pada penjelsan-penjelasan rasional yang akurat dan tepat. Selama kriteria-kriteria itu tidak terpenuhi, maka selama itu pula saya tidak akan bisa percaya. Dan sialnya saya dipaksa untuk tetap percaya!
Jumat, 13 Februari 2015
Terima Kasih, Kak
Teruntuk kakak,
Kelak kakak akan mengerti apa yang pernah saya lakukan jika kau jatuh pada keadaan dan situasi yang serupa dengan yang kualami saat ini, atau mungkin sebenarnya kakak telah terlebih dahulu mengalaminya? Saya berupaya keras untuk memahami situasi kakak sekarang yang sedang serba menggebu dan semangat menyala untuk menggapai mimpi dan cita. Kakak, apapun yang orang lain katakan tentangmu , saya tak pernah peduli. Kakak adalah orang yang selalu sukses membuat saya kalah, kalah dengan perasaan sendiri, saya tak mempedulikan apa yang orang lain katakan. Saya hanya peduli dengan perasaan saya pada kakak yang begitu sulit saya hapus dan hanguskan.
Kelak kakak akan mengerti apa yang pernah saya lakukan jika kau jatuh pada keadaan dan situasi yang serupa dengan yang kualami saat ini, atau mungkin sebenarnya kakak telah terlebih dahulu mengalaminya? Saya berupaya keras untuk memahami situasi kakak sekarang yang sedang serba menggebu dan semangat menyala untuk menggapai mimpi dan cita. Kakak, apapun yang orang lain katakan tentangmu , saya tak pernah peduli. Kakak adalah orang yang selalu sukses membuat saya kalah, kalah dengan perasaan sendiri, saya tak mempedulikan apa yang orang lain katakan. Saya hanya peduli dengan perasaan saya pada kakak yang begitu sulit saya hapus dan hanguskan.
Langganan:
Komentar (Atom)