Jumat, 13 Februari 2015

"Ya" di Bibir Saja Tak Cukup

Di bolak-balik bagaimana pun saya kok tetap tidak yakin ya? Ada saja bagian yang bisa disangkal dan dielak, ujungnya tidak yakin juga. Baiklah, saya tahu betul bahwa kebenaran dan pembenaran adalah dua hal yang berbeda, tapi jujur saja ini terasa seperti menyaksikan orang dalam saputan kabut. Tidak jelas. Lalu saya dipaksa untuk yakin? Maaf, saya tidak bisa. Akal hanya akan tunduk pada penjelsan-penjelasan rasional yang akurat dan tepat. Selama kriteria-kriteria itu tidak terpenuhi, maka selama itu pula saya tidak akan bisa percaya. Dan sialnya saya dipaksa untuk tetap percaya!


Baiklah, jika tetap memaksa, saya akan mengatakn "ya", tapi tidak dengan hati dan pikiran saya, seperti Galileo yang ketika diancam akan dihukum mati dan harius mengakui bahwa sifat tatasurya kita geosentris bukan heleosentris, Galileo mengatakan " galileo bertobat dengan mengatakan bahwa pusat tatasurya adalah bumi, tapi fakta bahwa bumi mengelilingi matahari tidak bisa dihentikan."Lihat, akal hanya akan tunduk pada bukti-bukti argumentatif.

Demikian juga dengan saya, jika saya mengatakan saya percaya, itu semata karena saya dipaksa untuk percaya, situasi yang memaksa saya untuk mengatakan "ya", saya mengatakan "ya" bukan karena ada bukti logis, bukan! Saya tidak akan berhenti mencari tahu dan percaya begitu saja dengan mudahnya. Lihat saja nanti, jika tidak ada bukti yang membuat saya menyerah dan tidak lagi membuat saya menyanggah, saya baru akan mempercayainya, tidak hanya dengan ucapan, tapi mempercayainya dengan segenap pikiran.

23112014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar