Bagi wanita seusia ku, dan masih sendiri (belum menikah), wajar rasanya jika kemudian memiliki keterikatan dan keterkaitan dengan lelaki, lawan jenisnya. Begitu juga dengan ku, aku yang masih muda, masih sendiri, dan tentu saja itu merupakan peluang yang strategis untuk merasakan badai galau yang menyiksa akibat jatuh pada parasaan yang disebut cinta.
Sudah berapa kali ya aku jatuh cinta? ya... jika tidak keliru hitung dan aku tidak keliru menamai sesuatu yang sempat ku rasakan dengan "jatuh cinta" itu, aku sudah dua kali mengalaminya. Pernah sekali, ketika aku masih duduk di bangku SMA, aku menyukai senior ku. Bukan tanpa alasan aku menyukainya, aku menyukainya karena dia memiliki kemampuan yang melampaui orang-orang yang ada di sekolah untuk satu mata pelajaran yang menjadi mata pelajaran paling ku sukai, matematika. karena kesamaan inilah pada akhirnya kami menjadi dekat, kami sering menghabiskan waktu bersama, awalnya hanya untuk belajar, namun kemudian waktu yang kami habiskan tidak hanya untuk belajar, tapi juga untuk bermain ala anak SMA di zaman ku, yakni jajan bareng di sekolah dan mendiskusikan apa saja, rujakan bareng, makan bareng, bahkan sampai nonton spongebob bareng-bareng (tentu saja aku melakukannya tak hanya berdua, ada beberapa kawan pria dan wanita yang turut meramaikan kebersamaan kami). Kemana-mana kami hampir selalu bersama-sama (aku dan 3 orang teman perempuan ku, dan dia dengan beberapa temanya laki-laki sekelasnya), sehingga orang-orang menamai kami "Bringka", artinya bring ka ditu bring ka dieu (kesana kemari).
Lalu kebersamaan itu merubah satu kondisi dalam diri ku, aku tak tagi menyukainya karena dia seorang jago matematika, lebih dari itu aku merasakan perasaan suka. Perasaan yang tiba-tiba hadir dan mendesir bersemilir mengganggu kedamaian hati yang sebelumnya belum pernah terusik dan tersentuh dengan perasaaan macam ini. awalnya aku tak tahu ini namanya apa, tapi seiring berlalunya waktu akhirnya aku berani menyimpulkan kalau yang aku rasakan adalah jatuh cinta.
Aah... sebenarnya untuk pertama kali aku tak mempercayai perasaan ini, aku tak bisa percaya begitu saja bahwa aku benar-benar jatuh cinta dengan orang yang meski pun secara akademis aku mengaguminya karena dia menonjol di bidang matematika, tapi untuk soal kepribadian aku benar-benar tak menyukainya. namun, lambat laun keadaan yang tengah aku alami ini memaksa untuk aku mempercayainya, bahwa aku sungguh-sungguh jatuh cinta.
Seluruh bayangan masa lalu ketika aku kelas X jelas dipelupuk mata, rasanya semua masih segar. ketika aku merasakan perasaan tersebut, aku berubah. Banyak hal yang berubah dari ku, salah satunya, aku sekarang mengambil jarak dengan senior ku, sebut saja dia Teo. aku tak lagi nyaman dengan kebersamaan kami, ada perasaaan yang sulit diterjemahkan dan dikonversi dalam kata-kata. Pokoknya, saat itu yang ingin aku lakukan adalah menjauh, aku tak ingin jika akhirnya dia tahu bahwa aku menyukainya. Aku yang biasanya seperti Tom and Jerry dengan Teo kini tak ada lagi.
Sejak saat itu aku berjanji pada diri ku aku tak akan pernah memberi tahunya, aku akan merawat perasaaanku sendiri dengan baik, dalam diam. Aku tak yakin bahwa aku sanggup memberi tahunya, lagi pula apa untungnya jika aku berhasil memberi tahu perasaanku padanya. Pacaran aku tak mau. Aku berniat serta aku berkomitmen dengan sungguh tidak akan pacaran sampai aku menikah kelak, karena bagiku aktivitas ini tak memberiku keuntungan, tak memberiku manfaat yang nyata kecuali pemuasan yang sifatnya sementara.
Bagi ku, jelas dan tegas batas antara laki-laki dan perempuan yang tak muhrim itu, jika tak ada kepentingan yang mendesak dan urgen kebersamaan yang melampaui batas itu harus dihindari. Berduaan yang keterlaluan, gandengan tangan, rangkulan, dan sampai pada aktivitas-aktivitas tak lazim lainnya yang dilakukan benar-benar harus dihindari. aku menyadari betul hal tersebut merupakan kondisi yang tak menguntungkan bagi pribadi masing-masing, merusak citra dan merusak moral.
Aku tak lagi sesering dulu belajar dengannya, aku kerap menghindari ajaknnya untuk sekadar ngobrol bareng dan jajan bareng sampai pada akhirnya dia curiga aku menyembunyikan sesuatu darinya, dia pun bertanya-tanya pada sahabat-sahabat ku perihal sikap aneh ku belakangan yang tak seperti biasanya.
Waktu demi waktu berlalu, aku masih saja dengan baik menyimpan perasaan itu, sampai dia lulus duluan dan melanjutkan kuliah ke kota, sampai aku sendiri yang lulus dan melanjutkan kuliah ku, aku masih merasakan perasaan yang sama kepadanya. ternyata aku mulai menyadari bahwa aku bukan perempuan yang mudah jatuh cinta, aku bukan perempuan yang mudah menjatuhkan perasan kepada siapa saja. sepanjang rentang waktu itu, yang bisa kulakukan adalah diam, aku diam dan diam. Aku sibuk dengan perasaanku padanya sehingga satu-satunya yang bisa dijadikan lawan bicaraku adalah catatan harianku, aku masih tak berani memberi tahunya. aku masih dengan keyakinan lamaku, bahwa aku memikirkan apa yang kemudian akan aku lakukan setelah dia tahu. Katakanlah aku mengatakannya dan dia tahu. So, setelah dia tahu selanjutnya apa? aku masih belum menemukan jawaban apa yang akan selanjutnya aku lakuakan setelah dia tahu... dengan begitu sikap ku masih sama dengan sikap ku yang telah berlalu, aku memilih DIAM. Kau tahu berapa lama ini berlangsung? kondisi seperti ini berlangsung hampir enam tahun, sejak aku duduk di kelas X samopai aku kuliah di semester 6.
Apa yang aku lakukan selama waktu itu adalah diam-diam memperhatikannya, diam-diam aku ingin mengetahui keadaannya. Sahabat ku yang memang saudaranya adalah akses terbaikku untuk mengetahui kondisi dan keadaannya sekarang. Ya... nomornya aku punya, tapi aku tak pernah berani mengirim sms atau menelepon untuk sekadar basa basi menanyakan keadaan. Nomor tersebut sampai detik ini masih ada dan hanya berani ku pandangi. Hmm... di facebook aku pun berteman dengannya. Yang kulakukan tak jauh berbeda, aku hanya berani stalking, boro-boro berani komentar di status-stausnya, me-like saja aku mikir seribu kali, aku khawatir dia tahu kalau aku menyukainya. Aku benar-benar tak mampu membuat jalan supaya aku dan Teo bisa berkomunikasi, dan aku pikir situasi ini adalah situasi yang membuatku setengah gila gara-gara terus berharap kalau dia akan mukai menyapaku dan jalan ceritanya akan seindah di novel dan di film. Sayangnya, aku tidak sedang menjadai aktor film, aku adalah aktor dunia nyata yang diam-diam memendam suka pada mantan kakak senior ku waktu SMA. Benar adanya bahwa "orang yang sedang kita tunggu boleh jadi tak tahu sama sekali sedang kita tunggu atau dia tahu kita menunggunya tapi dia tak peduli dengan apa yang kita lakukan. Hemat kata, kita menunggu yang tak menunggu kita. itulah kenyataan yang harus ku telan, pil pahil bernama kenyataan. dan orang yang menunggu itu salah satunya adalah aku. aku menunggu orang yang tak pernah menunggu ku.
Apa yang aku lakukan selama waktu itu adalah diam-diam memperhatikannya, diam-diam aku ingin mengetahui keadaannya. Sahabat ku yang memang saudaranya adalah akses terbaikku untuk mengetahui kondisi dan keadaannya sekarang. Ya... nomornya aku punya, tapi aku tak pernah berani mengirim sms atau menelepon untuk sekadar basa basi menanyakan keadaan. Nomor tersebut sampai detik ini masih ada dan hanya berani ku pandangi. Hmm... di facebook aku pun berteman dengannya. Yang kulakukan tak jauh berbeda, aku hanya berani stalking, boro-boro berani komentar di status-stausnya, me-like saja aku mikir seribu kali, aku khawatir dia tahu kalau aku menyukainya. Aku benar-benar tak mampu membuat jalan supaya aku dan Teo bisa berkomunikasi, dan aku pikir situasi ini adalah situasi yang membuatku setengah gila gara-gara terus berharap kalau dia akan mukai menyapaku dan jalan ceritanya akan seindah di novel dan di film. Sayangnya, aku tidak sedang menjadai aktor film, aku adalah aktor dunia nyata yang diam-diam memendam suka pada mantan kakak senior ku waktu SMA. Benar adanya bahwa "orang yang sedang kita tunggu boleh jadi tak tahu sama sekali sedang kita tunggu atau dia tahu kita menunggunya tapi dia tak peduli dengan apa yang kita lakukan. Hemat kata, kita menunggu yang tak menunggu kita. itulah kenyataan yang harus ku telan, pil pahil bernama kenyataan. dan orang yang menunggu itu salah satunya adalah aku. aku menunggu orang yang tak pernah menunggu ku.
Sampai pada akhirnya, aku mendengar kabar kalau dalam waktu dekat dia akan menikah. perasaanku... perasaanku berantakan, aku tak karuan... aku menebak, kalau inilah rasanya patah hati dan kecewa. saat itu aku menyadari satu hal bahwa aku bukan siapa-siapa dia, eh... maksud ku, aku hanya temannya, tepatnya adik kelasnya waktu SMA. Dengan demikian aku tak punya alasan untuk merasa sakit hati kepadanya, aku tak pernah menjalin hubungan lebih dengan pria itu. Dan semua persoalan selesai, ini murni masalahku dengan diriku sendiri, aku lah yang sakit hati, aku lah yang patah hati karena aku tak berhasil mengkoreksi perasaanku sebelumnya, bahwa perasaaan-perasaan semacam ini tak perlu untuk aku rasakan. kekecewaan ini sungguh tak bertuan, kekecewaan ini adalah persepsi yang salah mengenai status perasaan ku yang sekedar perasaan kepada dia, tak lebih.
Dia pun menikah, dan aku pun berdiri dengan tangan yang tertengadah dengan mengucapkan hamdallah, dalam kondisi yang sepenuhnya sedang berupaya tegar. Ditemani derasnya air mata dan rangkulan sakit yang tak bisa dihindari, aku tak putus-putus menyemangati diri. Inilah yang terbaik untuk ku, untuknya, meski pun aku tak mampu menjabarkannya. Keyakinanku hanya satu, bahwa itu adalah perencanaan Tuhan yang sempurna bagi kami. Aku tak perlu lagi merasakan kekecewan dan menghiasi diri dengan kesedihan. Aku punya kehidupan lain selain mengurusi perasaan itu, kehadiran perasaan itu pasti meninggalkan pelajaran dan berbekas hikmah dalam kehidupanku, meskipun hari ini aku belum tahu maksudnya apa, mungkin suatu hari kelak aku akan mengetahuinya, atau sekali pun aku tak pernah mengetahuinya, aku tetap meyakininya itu sebagai sebuah proses dan tahapan yang mesti ku lewati yang akan menjadikanku pribadi yang mendewasa dengan apa yang ku rasa.
Aku dulu jatuh, tapi aku jatuh untuk kembali bangun dan melanjutkan kehidupan ku. Dahulu aku sempat jatuh cinta, tapi sekarang aku akan membangun cinta. Aku jatuh bukan untuk tenggelam , aku jatuh untuk bangun lalu kemudian melanglang terbang menuju kesempurnaan.
aku melanjutkan hidup ku, aku tetap bisa hidup dengan baik, bahkan lebih baik. :)
aku melanjutkan hidup ku, aku tetap bisa hidup dengan baik, bahkan lebih baik. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar