Alkisah suatu hari kapak, gergaji, palu dan api hendak melakukan perjalanan ke
sebuah tempat untuk melakukan sebuah pekerjaan, namun sesampainya ditengah
jalan, tepatnya ditengah hutan, ada sesuatu yang menghalangi perjalanan mereka
dan mereka tak bisa lewat jika yang menghalanginya itu tak disingkirkan. Siapa
sih yang menghalangi mereka?
Ada baja disana yang malang melintangi jalan mereka. Karena kepedeaan dan kenarsisan kapak, maka dia dengan lantang maju “awas, aku akan menyingkirkan si baja keras ini” sambil melenggang penuh kesombongan, dia melangkah menghampiri baja dan memulai mematuk matukan dirinya kepada baja, namun apa yang dilakukannya tak membuahkan hasil, malah yang ada dia terpental pental dan ketajamannya kini menjadi berganti ketumpulan. Kapak pun berhenti dan menyerah “aku tak sanggup melawan baja ini, terlalu keras”. “aku sudah yakin dari awal kalau kapak tak akan mampu melakukan ini, awas biar aku saja yang menyingkirkannya” ucap gergaji tak kalah sombong. Mulailah ia menggesek-gesekan dirinya pada baja, gigi-gigi tajamnya mulai beraksi, namun tak lama gergaji mengauh dan mengaduh karena gigi-gigi runcingnya mulai rontok melawan kerasnya baja, dan sekarang dia terkulai lemah karena ompong sudah semua senjatanya. Giginya habis. “ menyingkir!” ucap palu angkuh… dengan segera mereka menyingkir dari dekat baja. “yang keras harus dilawan dengan yang keras, aku yakin bisa melakukan ini” lanjut palu masih dengan nada angkuhnya. Palu pun memukul-mukulkan diri pada baja, baru tiga kali palu melakukan pukulan, palu sudah terpelanting jatuh dan kepalanya patah. Tak ada kata yang keluar dari palu. Dengan penuh kelembutan api bangkit “temen-teman boleh aku mencoba menyingkirkan baja ini?” teman-temannya hanya saling bertukar pandang dan tak mampu mengatakan sesuatu kepada api karena saking putus asa dan tidak percayanya pada api, api kan tak punya kekuatan yang bisa dibanggakan, pikir mereka. Lalu api pun melangkah mendekati baja, dengan halus dia melingkarkan tangannya pada baja, api mendekap baja dan api tak mau melepaskannya. Beberapa lama teman-teman api keheranan dengan yang dilakukan api. “hey api, apa yang kau lakukan?” Tanya gergaji penuh penasaran. “aku hanya ingin mendekapnya, aku ingin memuaikan baja dalam hangatnya pelukanku” jawab api dengan bijak. Tak lama setelah itu baja keras yang melintangi jalan itu lenyap… tidak, tidak lenyap tapi dia meleleh dalam dekapan hangat api yang tulus. Akhirnya mereka berempat bisa lewat.
Ada baja disana yang malang melintangi jalan mereka. Karena kepedeaan dan kenarsisan kapak, maka dia dengan lantang maju “awas, aku akan menyingkirkan si baja keras ini” sambil melenggang penuh kesombongan, dia melangkah menghampiri baja dan memulai mematuk matukan dirinya kepada baja, namun apa yang dilakukannya tak membuahkan hasil, malah yang ada dia terpental pental dan ketajamannya kini menjadi berganti ketumpulan. Kapak pun berhenti dan menyerah “aku tak sanggup melawan baja ini, terlalu keras”. “aku sudah yakin dari awal kalau kapak tak akan mampu melakukan ini, awas biar aku saja yang menyingkirkannya” ucap gergaji tak kalah sombong. Mulailah ia menggesek-gesekan dirinya pada baja, gigi-gigi tajamnya mulai beraksi, namun tak lama gergaji mengauh dan mengaduh karena gigi-gigi runcingnya mulai rontok melawan kerasnya baja, dan sekarang dia terkulai lemah karena ompong sudah semua senjatanya. Giginya habis. “ menyingkir!” ucap palu angkuh… dengan segera mereka menyingkir dari dekat baja. “yang keras harus dilawan dengan yang keras, aku yakin bisa melakukan ini” lanjut palu masih dengan nada angkuhnya. Palu pun memukul-mukulkan diri pada baja, baru tiga kali palu melakukan pukulan, palu sudah terpelanting jatuh dan kepalanya patah. Tak ada kata yang keluar dari palu. Dengan penuh kelembutan api bangkit “temen-teman boleh aku mencoba menyingkirkan baja ini?” teman-temannya hanya saling bertukar pandang dan tak mampu mengatakan sesuatu kepada api karena saking putus asa dan tidak percayanya pada api, api kan tak punya kekuatan yang bisa dibanggakan, pikir mereka. Lalu api pun melangkah mendekati baja, dengan halus dia melingkarkan tangannya pada baja, api mendekap baja dan api tak mau melepaskannya. Beberapa lama teman-teman api keheranan dengan yang dilakukan api. “hey api, apa yang kau lakukan?” Tanya gergaji penuh penasaran. “aku hanya ingin mendekapnya, aku ingin memuaikan baja dalam hangatnya pelukanku” jawab api dengan bijak. Tak lama setelah itu baja keras yang melintangi jalan itu lenyap… tidak, tidak lenyap tapi dia meleleh dalam dekapan hangat api yang tulus. Akhirnya mereka berempat bisa lewat.
See… itulah yang sering kita lakukan untuk menghadapi kawan yang
keras kepala, keukeuh, pokoknya ngebatu. Keras dilawan dengan keras. Kita
kerahkan segenap kemampuan demi harga diri, namun yang terjadi adalah kita
melukai diri sendiri. Jadilah sehangat dan setulus api yang mendekap dengan
penuh kasih. Kerasnya baja saja meluruh dengan api cinta, apalagi hati manusia
yang bukan baja. Dengan perhatian yang tulus kita mampu meluluhkan siapa pun… yakin?
J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar