Senin, 07 Januari 2013

komitmen tak cukup dengan bilang "iya"

Pernahkah gak punya harapan, tingggiiiii banget? ambisius  banget pengen mewujudkan harapan tersebut? saya mau cerita tentang salah satu harapan besar saya. harapan ini muncul sudah sejak lama, kalau saya ingin menjadi orang.... hmmm... apa yaaa?
saya ingin menjadi seorang organisator yang baik, ulung, handal, hmmm organisator profesional mungkin yang tepat mah yang tidak hanya mengorganisir kehidupan sendiri dengan baik,  tapi lebih besar dari itu, saya ingin mengorganisir sesuatu yang berada diluar saya tapi dekat dengan saya.

singkat cerita ni yaaa... saya jadi salah satu member dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan bukan berita yang baik buat saya kalau saya masuk dalam organisasi semacam ini -- saya gak pernah mencalon, saya hanya direkomendasikan, mental saya terlalu cepat ciut jika mendengar kata "organisasi", kayanya teh  kata tersebut memiliki karisma yang luar biasa menghanyutkan pikiran kedalam lembah keciutan. tapiiii... kemudian saya segera ingat kalau saya ternyata memiliki impian untuk bisa menjadi organisator... dan bukankah ini adalah sebuah kesempatan? "ya... ini kesempatan", ucap saya untuk membesarkan hati (dari dulu saya ketakutan sekali dengan sesuatu yang bernama organisasi).

sejak saat itu saya membangkitkan semangat untuk menjemput harapan menjadi kenyataan. saya mulai senang, saya mulai terlibat... waktu berjalan terus... dan saya mulai merasakan adanya gangguan perasaan, saya benar-benar benci dengan keadaan satu ini, kalau rapat gak pernah tuh teman-teman yang lain datang tepat waktu sesuai dengan yang dijadwalkan -- meskipun tak semuanya tapi sebagian besar. sungguhan itu menjadi sesuatu yang membuat saya geram, apalagi saya beberapa waktu yang lalu menjadi jam alarm bagi teman-teman yang lain untuk sebar sms dan mengingatkan jadwal rapat. betapa saya benci ketika menemui ruangan yang masih kosong melompong ketika datang ketempat yang sudah ditentukan sebagai tempat rapat. saya akui, kalau kuliah saya masih suka telat datang, barang 10 sampai 20 menit yang menjanjikan tidak diakuinya kehadiran dikelas alias alfa... tapiiii... lain ceritanya dengan ini (walaupun saya tahu gak seharusnya saya telat datang kuliah. hehe masih dalam proses perbaikan kalau yang satu ini), dengan harapan yang melangit saya mencoba datang tepat waktu... dan... ini bukan sekali dua kali tapi banyak kali.... dan inilah yang membuat saya merasa kesal tingkat akut, dan hari inilah saya merasakan kekesalan saya benar-benar memuncak. saya bosan jika terus-turusan nunggu, memangnya tak ada kerjaan lain yang lebih worthy  gitu? dan... pada saat yang sama saya menyadari sesuatu "mengkondisikan dan mengatur supaya dateng rapat tepat waktu saja tidak mudah, apalagi mengorganisar susuatu yang lebih besar dari rapat"... "mengumpulkan banyak pribadi dalam satu ruangan, baru fisiknya saja susahnya minta ampun... apalagi mengumpulkan aneka gagasan dari pribadi yang berbeda" masyaallah... ternyata begini rasanya!!!

untuk mengatasinya saya berinisiatif untuk membuat komitmen hitam diatas putih.... singkat cerita terealisasilah gagasan saya membuat lembar komitmen dan ditandatangani oleh setiap orang dari member. entah sadar entah tidak mereka membuat itu... karena pada kenyataannya tak ada yang berubah setelah lembar komitmen ditandatangani. saya semakin muak...

dalam sebuah kesempatan super keren dipenghujung tahun 2012, dalam sebuah training khusus pembekalan berorganisasi kami (member BEM), kami membuat semacam mimpi bersama untuk diwujudkan bersama dan salah satunya adalah penghargaan pada waktu rapat. "yes, ini awal yang keren" pikir saya dengan perasaan berbunga-bunga seperti orang yang jatuh cinta (hahaha... seperti pernah saja). dan... waktu pun kembali berlalu... saya sekarang ingin memakai kubik sebagai penekanan, saya benar-benar-benar muak, banget sangat... telat waktu rapat!!! haha... omong kosong apa yang mereka ucapkan itu sebagai impian bersama "kalam" kalau teman saya bilang. ngomong doang. yang ini gak lucu banget... rapat setengah tiga, datangnya setengah lima. hah what the hell!!!... muak!!!

komitmen itu ternyata tak cukup bilang "ya"... komitmen itu datang dari hati dan pikiran yang sadar. kalau sekadar bilang, sekadar ngomong, burung beo saja bisa, lantas kalau begitu, apa bedanya dengan burung beo?

demikian keberadaannya, tapiii....saya selalu berharap bisa menjadi organisator handal. saya tak pernah membatasi harapan saya, meskipun saya dipunggal rasa kecewa yang mendalam, dalam banget. mungkin saja ini adalah awal perjalanan saya untuk menjadi apa yang saya harapkan. saya harus kembali menengok diri sendiri, mengorganisir diri sendiri.... :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar