Selasa, 15 Januari 2013

Jatuh Cinta? bisa jadi...


Aduh benarkah saya jatuh cinta?!

Saya malu, sudah terlalu lama saya mematut diri dalam keadaan ini, dalam keadaan yang saya seharusnya tak membiarkan hati dan pikiran terlarut  begitu dalam. Saya tahu saya kuat, dan memang saya harus kuat. Saya harus mengokohkan tembok pertahanan hati saya supaya tak ada celah barang setitik pun untuk lelaki ajnabi yang bukan mahrom sekarang ini. Jangan-jangan celah itu perlahan mulai terbuka dan setan mulai merencanakan hal besar untuk mengobrak abrik isi hati dan pikiran lalu saya pun dilalaikannya. Andai celah itu benar-benar terbuka, maka sempurnalah saya melebarkan gerbang kelalaian dalam hari-hari saya. Tidak! Saya benar-benar tak ingin itu terjadi dan saya meng azam kan diri untuk tak pernah melakukannya sebelum sebuah majlis besar digelar dan dia mengatakan qobiltu dihadapan kedua orang tua. Saya tak ingin merajut cerita yang awalnya saja dibuka dengan senyum manis tapi ditutup dengan badai tangis, sudah malah belum halal, sad ending lagi. Rugi kuadrat. Bukan saya tidak ingin, saya sebagai wanita normal tentu saja ingin sekali mengecap sesuatu bernama “pacaran” (sebelum nikah maksudnya, kalau sudah menikah mah sok  aja mau pacaran sambil jungkir balik juga. Insyaallah  garansinya halal J)

Mungkin benar apa yang termaktub dalam sebuah buku yang mengatakan bahwa “jika belum mampu mengikat cinta dalam mahligai pernikahan, sebaiknya kita kekang perasaan rindu yang buncah itu, yang meronta-ronta ingin mengekspresikan cinta dan melebur dengan yang dirindu”. Syahwat ini sebelum saatnya tiba harus dikekang, dibebat dalam kesabaran sebuah penantian. Cintanya memang tak sia-sia tapi cara kita mendapatkan tanpa segera mengaplikasikannya dalam pernikahan lah yang sia-sia, malah bisa dikategorikan sebagai bencana moral.

Jodoh adalah sebuah enigma—misteri dalam kehidupan. Siapa yang berani jamin kalau dia jodoh saya walaupun siang malam dia sangat rajin mengetuk ruang pikir saya, menari-nari daam imajinasi, mengepulkan asap kebahagiaan dan membumbungkan awan harapan. Ahh… tak ada yang berani menjaminnya!! Misteri itu akan terkuar seiring berjalannya waktu, ia akan mengemuka ke alam realita dan dia tak lagi berkediaman di alam idea. Hmm mungkin saya ini terlalu menelusuk terlalu dalam pada kehangatan bulu kelinci yang halus seperti guru filsafat sophie bilang (sindrom dunia sophie nampaknya… J), saya terlalu banyak mengurusi hal-hal remeh temeh dengan banyak menghayal mungkin, sehingga membuat hidup menjadi coreng-moreng dengan hal-hal yang tidak penting dan tidak prinsipil? Benarkah begitu? Tak tahu…

Barang kali saya harus kembali meng upgrade fondasi pertahanan saya, saya harus memperbaiki diri. Saya harus tegas pada diri sendiri bahwa imaji-imaji itu harus segera diabu lenyapkan, lembaran-lembaran proposal harapan itu untuk sementara di cancel dulu. Sekarang waktunya saya menyelesaikan amanah belajar saya, walaupun saya tahu untuk menikah tak harus menunggu selesai kuliah J (lho...). Esok atau lusa jika memang sudah  tiba saatnya, nama yang sejak d lauhumahfudz sudah disandingkan akan bersatu juga, Dia tak akan keliru menggerakan mesin takdir semesta, Ia akan menggiring kebersamaan dalam kedaulatan rumah tangga. Aamiin. satu-satunya tugas saya sekarang adalah memantaskan diri sebelum waktu itu tiba dengan tidak lupa selalu mengirim doa kelangitNya supaya segera disatukan dengan yang dicinta. Dadu bersisi enam, dengan keseluruhan sisi sempurna bertuliskan aamiin saya lempar kelangit ketingggianNya dan para malaikat pun ikut meng aamiininya. Insyaallah. Aamiin

Wahai yang sedang terpasak panah cinta, yang hatinya sempurna dikuasai virus merah jambu, yang jiwanya sedang merekah indah, semoga perasaan ini membawa kita semakin mendekat kepada sang maha cinta, semoga momen ini menjadi loncatan bagi jiwa kita untuk sampai pada derajat yang lebih tinggi. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar