Aduh benarkah saya jatuh cinta?!
Saya malu, sudah terlalu lama saya
mematut diri dalam keadaan ini, dalam keadaan yang saya seharusnya tak membiarkan
hati dan pikiran terlarut begitu dalam. Saya
tahu saya kuat, dan memang saya harus kuat. Saya harus mengokohkan tembok
pertahanan hati saya supaya tak ada celah barang setitik pun untuk lelaki ajnabi yang bukan mahrom sekarang ini. Jangan-jangan
celah itu perlahan mulai terbuka dan setan mulai merencanakan hal besar untuk
mengobrak abrik isi hati dan pikiran lalu saya pun dilalaikannya. Andai celah
itu benar-benar terbuka, maka sempurnalah saya melebarkan gerbang kelalaian
dalam hari-hari saya. Tidak! Saya benar-benar tak ingin itu terjadi dan saya
meng azam kan diri untuk tak pernah
melakukannya sebelum sebuah majlis besar digelar dan dia mengatakan qobiltu dihadapan kedua orang tua. Saya tak
ingin merajut cerita yang awalnya saja dibuka dengan senyum manis tapi ditutup
dengan badai tangis, sudah malah belum halal, sad ending lagi. Rugi kuadrat. Bukan saya tidak ingin, saya sebagai
wanita normal tentu saja ingin sekali mengecap sesuatu bernama “pacaran” (sebelum
nikah maksudnya, kalau sudah menikah mah
sok aja mau pacaran sambil jungkir
balik juga. Insyaallah garansinya halal J)
Mungkin benar apa yang termaktub
dalam sebuah buku yang mengatakan bahwa “jika belum mampu mengikat cinta dalam
mahligai pernikahan, sebaiknya kita kekang perasaan rindu yang buncah itu, yang
meronta-ronta ingin mengekspresikan cinta dan melebur dengan yang dirindu”. Syahwat
ini sebelum saatnya tiba harus dikekang, dibebat dalam kesabaran sebuah
penantian. Cintanya memang tak sia-sia tapi cara kita mendapatkan tanpa segera
mengaplikasikannya dalam pernikahan lah yang sia-sia, malah bisa dikategorikan
sebagai bencana moral.
Jodoh adalah sebuah enigma—misteri dalam
kehidupan. Siapa yang berani jamin kalau dia jodoh saya walaupun siang malam
dia sangat rajin mengetuk ruang pikir saya, menari-nari daam imajinasi,
mengepulkan asap kebahagiaan dan membumbungkan awan harapan. Ahh… tak ada yang
berani menjaminnya!! Misteri itu akan terkuar seiring berjalannya waktu, ia
akan mengemuka ke alam realita dan dia tak lagi berkediaman di alam idea. Hmm mungkin
saya ini terlalu menelusuk terlalu dalam pada kehangatan bulu kelinci yang
halus seperti guru filsafat sophie bilang (sindrom dunia sophie nampaknya… J), saya terlalu banyak
mengurusi hal-hal remeh temeh dengan banyak menghayal mungkin, sehingga membuat
hidup menjadi coreng-moreng dengan hal-hal yang tidak penting dan tidak
prinsipil? Benarkah begitu? Tak tahu…
Barang kali saya harus kembali meng upgrade fondasi pertahanan saya, saya
harus memperbaiki diri. Saya harus tegas pada diri sendiri bahwa imaji-imaji itu
harus segera diabu lenyapkan, lembaran-lembaran proposal harapan itu untuk
sementara di cancel dulu. Sekarang waktunya
saya menyelesaikan amanah belajar saya, walaupun saya tahu untuk menikah tak
harus menunggu selesai kuliah J (lho...). Esok atau
lusa jika memang sudah tiba saatnya,
nama yang sejak d lauhumahfudz sudah
disandingkan akan bersatu juga, Dia tak akan keliru menggerakan mesin takdir
semesta, Ia akan menggiring kebersamaan dalam kedaulatan rumah tangga. Aamiin.
satu-satunya tugas saya sekarang adalah memantaskan diri sebelum waktu itu tiba
dengan tidak lupa selalu mengirim doa kelangitNya supaya segera disatukan
dengan yang dicinta. Dadu bersisi enam, dengan keseluruhan sisi sempurna
bertuliskan aamiin saya lempar kelangit ketingggianNya dan para malaikat pun
ikut meng aamiininya. Insyaallah. Aamiin
Wahai yang sedang terpasak panah
cinta, yang hatinya sempurna dikuasai virus merah jambu, yang jiwanya sedang
merekah indah, semoga perasaan ini membawa kita semakin mendekat kepada sang
maha cinta, semoga momen ini menjadi loncatan bagi jiwa kita untuk sampai pada
derajat yang lebih tinggi. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar