Selasa, 08 Januari 2013

The Art of Living


Berbicara keindahan, siapakah orang yang tak menyukai dan menginginkannya? Sudah menjadi fitrah untuk manusia untuk menyukai dan bergerak kearahnya. Sekarang tinggal bagaimana memaknai keindahan itu. 


Penting kiranya untuk diketahui bahwa keindahan itu sifatnya tak hanya materi saja tapi juga ada keindahan yang sifatnya immateri. Jika fisik memiliki keindahan maka tak bisa dinafikan, jiwa pun yang sifatnya nonfisik  memilikinya. keberadaan cinta, benci, bahagia, sedih adalah sampelnya. Jika benci dan sedih dianggap sebagai kejelekan yang membuat hidup menjadi buruk rupa, maka apalagi namanya kalau cinta dan bahagia jika bukan keindahan yang menjadikan hidup indah juga? 

Jika kemudian muncul tanya "kenapa cinta dan bahagia itu digolongkan dalam keindahan yang sifatnya immateri?" maka saya akan menjawabnya dengan pertanyaan pula "lantas jika keduanya materi maka bentuknya seperti apa? Coba tunjukan jika ada!". Jika kemudian dibantah lagi, ketika marah maka yang bereaksi adalah tubuh seperti misalnya dengan memaki maka itulah bentuk marah. Hmm. . Baiklah kalau begitu, maka saya akan kembali memberi pertanyaan, apakah sebelumnya yang tersulut itu langsung fisik?bukankah ada organ halus yang kasat mata yang terlebih dahulu tersulut? pertanyaannya sekarang, perasaan itu fisik/ nonfisik? Tubuh bereaksi atas perintah perasaan. Nah sekarang jika dikatakan bahwa marah itu adalah reaksi dari syaraf-syaraf otak yang menegang, memang benar ia adalah reaksi tersebut tapi kemudian muncul pertanyaan, lantas jika memang demikian saja alasannya maka dibagian otak sebelah mana bentuk marah itu disimpan? Bentuknya seperti apa? 

Ini artinya bahwa manusia tak hanya terdiri dari fisik saja, ada unsur nonfisik dalam manusia yang bernama jiwa. manusia adalah makhluk dua dimensi. Nah, setelah meninggal maka apakah fisik ini masih bisa melangsungkan kehidupan? Tentunya tidak, karena jiwa telah berlepas dari badan menuju alam asalnya yakni alam spiritual. badan tanpa jiwa bukan apa-apa.

Keberadaan jiwa sangat krusial, apalagi bagi orang yang beragama yang yakin akan keberadaan surga dan neraka. Jika jiwa tak ada maka apa yang nanti mendapat pahala atau siksa?


Bertolak dari kepercayaan orang beragama, seperti paradigma positivistik yang model idealnya adalah penganut psikologi behaviorisme yang menyatakan bahwa jiwa adalah peran fungsi otak dan tak lebih dari itu. Nah jika demikian, saya memiliki tugas penting untuk mereka. Kalau jiwa diartikan sebagai otak, segeralah sembuhkan orang-orang gila dengan menata kembali susunan otak sebagaimana seharusnya seperti yang biasa mereka lakukan, menganggap benar jika terbukti secara empiris. maka buktikanlah keyakinan kalian wahai ilmuwan barat dengan menyembuhkan orang gila, yang menurut kalian gila adalah penyakit fisik belaka!!!

Dalam tradisi filosof muslim diketahui bahwa manusia memiliki 2 macam sikap, yaitu alamiah/ natural dan bentukan/ nurtural. Nah, karena secara alamiah manusia memiliki sikap bawaan yang tak hanya baik tapi juga tak baik. kemudian, sikap tak baik itu bisa diarahkan dan dilatih agar menjadi baik itu disebut sebagai sikap nurtural. Sebagai bukti konkrit adanya sikap nurtural adalah pengaruh lingkungan. Lingkungan sangat berpengaruh membentuk kepribadian seseorang.

Mereka (filosof muslim) telah melahirkan ilmu terapan, dan salah satunya adalah etika yang tidak hanya berfokus pada aspek badani saja yang hanya mengajarkan etika keseharian, seperti makan, minum, bicara, tapi lebih dari itu mereka mengajarkan hal hal yang sifatnya spiritual, karena etika (dalam Islam disetarakan dengan akhlaq) erat kaitannya dengan jiwa. Jiwa seperti badan, bisa mengalami sakit, sakit jiwa. Maka dalam karya-karyanya, mereka mengajarkan cara merawat dan menyembuhkan penyakit jiwa (penyakit jiwa yang dimaksud tak sesempit anggapan ilmuwan barat yaitu sebatas hilangnya kesadaran, tapi iri, dengki, hasud, sombong, riya, sum’ah, dll termasuk penyakit jiwa yang mengancam hilangnya kesadaran). Maka, etika adalah pelajaran penting yang untuk dipelajari dan dikuasai sebagai sarana membentuk kehidupan yang artistik, penuh keindahan dan mengindahkan. Etika adalah sarana untuk melukis kehidupan, itulah mengapa etika disebut  sebagai ART OF LIVING. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar