Ketika zaman
jahiliyah, ayah berhak penuh atas anak perempuannya, ayah berhak menikahkan
putrinya dengan pria manapun yang ayahnya sukai tanpa berpikir putrinya
bersedia atau tidak untuk dinikahkan dengan pria pilihan ayahnya, yang ayahnya
pentingkan adalah bagaimana anaknya menikah dengan laki-laki pilihannya dan
seluruh mahar untuk putrinya menjadi hak penuh ayahnya.
sampai
pada gilirannya Islam datang, dan ada yang mengadukan perihal ini kepada rasulullah,
kemudian rasulallah menjawab persoalan tersebut dengan mengatakan “mulai saat ini aku kabarkan kepada wanita,
bahwa mulai sekarang para ayah tak
berhak menikahkan anak gadisnya dengan pria pilihannya”. Jelas sudah, mulai
sejak saat itu wanita diberi kebebasan untuk menentukan sendiri kehidupannya,
walaupun disini tidak dinafikan kalau izin sang ayah diperlukan untuk mengambil
keputusan tersebut karena hal ini akan memberikan perlindungan kepada si anak
gadis yang tak tahu menahu tentang tabiat pria. Hal ini merupakan alasan
psikologis si gadis, hal ini berhubungan langsung dengan kebuasan pria disatu
sisi dan kemudah percayaan si gadis disisi lain (katanya wanita itu mudah
dibohongi… hmm benarkah??). Hal ini dimungkinkan karena sang ayah sebagai
seorang pria akan jauh lebih tahu dari anak gadisnya mengenai tabiat serta
karakter yang melekat pada pria yang akan dinikahi oleh gadisnya. Dalam hal ini
setidak-tidaknya sang ayah bisa menilai pria yang akan dinikahi oleh gadisnya
untuk kelangsungan kebahagiaan rumah tangga anak gadisnya di kemudian hari.
Pada
prakteknya, wanita sangat rawan dengan kebuasan laki-laki—yang bernafsu menaklukan para wanita—(hayoo para pria
benar tidak? ^_^) yang sudah tahu titik
lemah wanita. Wanita sangat peka terhadap rayuan, gombalan dan sanjungan pria
yang sengaja menggunakannya dengan tujuan untuk melemahkan sang wanita
(beruntung kalau pria tersebut berniat bersungguh-sungguh), lebih-lebih wanita
yang masih polos dan kurang pengetahuan tentang ini, ia akan lebih mudah jatuh
dalam jejaring jahanam pria (ini pengakuan secara pribadi: sebagai wanita, saya
suka dirayu memang. Hah!! Kenyataan yang tak bisa dinafikan!). inilah fondasi
kenapa wanita dalam hal ini gadis butuh izin sang ayah ketika memutuskan akan
menikahi seorang pria. Hal ini bukan disandarkan Karena pria (ayah) lebih
superior ketimbang wanita (anak), tapi hal ini dimaksudkan untuk membentengi
kesucian wanita (seperti yang sudah saya ditulis diatas kalau wanita itu mudah
takluk dengan rayuan, kalau sudah begini, luluh lumpuh lah wanita, oleh
karenanya wanita akan mau saja kepada pria tersebut walaupun sebenernya apa
yang dikatakan pria tersebut adalah bercap kibul sebesar gajah).
Pria akan
terus mencari wanita untuk memenuhi syahwatnya, dan itu berarti pria berada
dibawah kendali syahwatnya (meskipun mungkin tidak semuanya). berangkat dari tabiatnya yang suka mencari
tersebut, pria sebenarnya ingin mengatakan
kalau dia memiliki satu kebutuhan mendasar, yakni diakui (entah kegagahan,
ketampanan, ataupun kepiawaiannya dalam menaklukan wanita). Sedangkan wanita akan
segera masuk kedalam perangkap cinta pria (secara alami memang demikian, rayuan
maut pria akan melumpuhkan antibody keimanannya). Ada psikolog wanita amerika
mengatakan bahwa “wanita lebih bisa
mengendalikan nafsunya ketimbang pria, namun
ada satu hal yang bisa melumpuhkan dan menggoyahkannya , ia adalah
rayuan kekasihnya” dengan alasan tersebut, psikolog tersebut berargumentasi
bahwa kalimat terbaik untuk dikatakan kepada wanita adalah “aku mencintaimu” dan kalimat terbaik untuk dikatakan
kepada pria adalah “aku bangga kepadmu” (hayooo…
lho… diam-diam saling membutuhkan dan melengkapi kebutuhan psikologis ya, kalau
biologis mah sudah mafhum lah tak
usah dijelaskan J). Nah,
jelas sudah kalau kedua makhluk berbeda kelamin ini mempunyai kebutuhan yang
berbeda dan keduanya memiliki cara untk melumatkan hati satu sama lain.
Oya… ada
hal penting yang harus saya katakan disini sebelum menyudahi tulisan ini.
Jauh-jauh hari sebelum psikolog amerika tersebut mengatakan “ I love you” sebagai
rumus jitu menaklukan wanita, 14 abad yang lalu Muhammad, Rosul kita telah
mengatakannya terlebih dahulu “seorang wanita tak
akan melepaskan hatinya dari kata-kata yang diucapkan pria kepadanya yakni I LOVE YOU” (untuk informasi lebih lanjut baca buku murtadha muthahhari: hak wanita
dalam Islam). Wallahu’alam…
Jelas, wanita merdeka dan bebas menjatuhkan pilihan kepada pria manapun yang ia sukai, itu hak sosial
yang tak bisa ditawar!! Tak ada paksaan orang tua dalam menikah J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar