Senin, 14 Januari 2013

kemerdekaan sosial wanita


Ketika zaman jahiliyah, ayah berhak penuh atas anak perempuannya, ayah berhak menikahkan putrinya dengan pria manapun yang ayahnya sukai tanpa berpikir putrinya bersedia atau tidak untuk dinikahkan dengan pria pilihan ayahnya, yang ayahnya pentingkan adalah bagaimana anaknya menikah dengan laki-laki pilihannya dan seluruh mahar untuk putrinya menjadi hak penuh ayahnya.


sampai pada gilirannya Islam datang, dan ada yang mengadukan perihal ini kepada rasulullah, kemudian rasulallah menjawab persoalan tersebut dengan mengatakan “mulai saat ini aku kabarkan kepada wanita, bahwa mulai sekarang para ayah  tak berhak menikahkan anak gadisnya dengan pria pilihannya”. Jelas sudah, mulai sejak saat itu wanita diberi kebebasan untuk menentukan sendiri kehidupannya, walaupun disini tidak dinafikan kalau izin sang ayah diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut karena hal ini akan memberikan perlindungan kepada si anak gadis yang tak tahu menahu tentang tabiat pria. Hal ini merupakan alasan psikologis si gadis, hal ini berhubungan langsung dengan kebuasan pria disatu sisi dan kemudah percayaan si gadis disisi lain (katanya wanita itu mudah dibohongi… hmm benarkah??). Hal ini dimungkinkan karena sang ayah sebagai seorang pria akan jauh lebih tahu dari anak gadisnya mengenai tabiat serta karakter yang melekat pada pria yang akan dinikahi oleh gadisnya. Dalam hal ini setidak-tidaknya sang ayah bisa menilai pria yang akan dinikahi oleh gadisnya untuk kelangsungan kebahagiaan rumah tangga anak gadisnya di kemudian hari.


Pada prakteknya, wanita sangat rawan dengan kebuasan laki-laki—yang  bernafsu menaklukan para wanita—(hayoo para pria benar tidak? ^_^)  yang sudah tahu titik lemah wanita. Wanita sangat peka terhadap rayuan, gombalan dan sanjungan pria yang sengaja menggunakannya dengan tujuan untuk melemahkan sang wanita (beruntung kalau pria tersebut berniat bersungguh-sungguh), lebih-lebih wanita yang masih polos dan kurang pengetahuan tentang ini, ia akan lebih mudah jatuh dalam jejaring jahanam pria (ini pengakuan secara pribadi: sebagai wanita, saya suka dirayu memang. Hah!! Kenyataan yang tak bisa dinafikan!). inilah fondasi kenapa wanita dalam hal ini gadis butuh izin sang ayah ketika memutuskan akan menikahi seorang pria. Hal ini bukan disandarkan Karena pria (ayah) lebih superior ketimbang wanita (anak), tapi hal ini dimaksudkan untuk membentengi kesucian wanita (seperti yang sudah saya ditulis diatas kalau wanita itu mudah takluk dengan rayuan, kalau sudah begini, luluh lumpuh lah wanita, oleh karenanya wanita akan mau saja kepada pria tersebut walaupun sebenernya apa yang dikatakan pria tersebut adalah bercap kibul sebesar gajah).

Pria akan terus mencari wanita untuk memenuhi syahwatnya, dan itu berarti pria berada dibawah kendali syahwatnya (meskipun mungkin tidak semuanya). berangkat dari tabiatnya yang suka mencari tersebut, pria sebenarnya  ingin mengatakan kalau dia memiliki satu kebutuhan mendasar, yakni diakui (entah kegagahan, ketampanan, ataupun kepiawaiannya dalam menaklukan wanita). Sedangkan wanita akan segera masuk kedalam perangkap cinta pria (secara alami memang demikian, rayuan maut pria akan melumpuhkan antibody keimanannya). Ada psikolog wanita amerika mengatakan bahwa “wanita lebih bisa mengendalikan nafsunya ketimbang pria, namun  ada satu hal yang bisa melumpuhkan dan menggoyahkannya , ia adalah rayuan kekasihnya” dengan alasan tersebut, psikolog tersebut berargumentasi bahwa kalimat terbaik untuk dikatakan kepada wanita adalahaku mencintaimu”  dan kalimat terbaik untuk dikatakan kepada pria adalah “aku bangga kepadmu”  (hayooo… lho… diam-diam saling membutuhkan dan melengkapi kebutuhan psikologis ya, kalau biologis mah sudah mafhum lah tak usah dijelaskan J). Nah, jelas sudah kalau kedua makhluk berbeda kelamin ini mempunyai kebutuhan yang berbeda dan keduanya memiliki cara untk melumatkan hati satu sama lain.

Oya… ada hal penting yang harus saya katakan disini sebelum menyudahi tulisan ini. Jauh-jauh hari sebelum psikolog amerika tersebut mengatakan “ I love you” sebagai rumus jitu menaklukan wanita, 14 abad yang lalu Muhammad, Rosul kita telah mengatakannya terlebih dahulu “seorang wanita tak akan melepaskan hatinya dari kata-kata yang diucapkan pria kepadanya yakni I LOVE YOU” (untuk informasi lebih lanjut baca buku murtadha muthahhari: hak wanita dalam Islam). Wallahu’alam…

Jelas, wanita merdeka dan bebas menjatuhkan pilihan kepada pria manapun yang ia sukai, itu hak sosial yang tak bisa ditawar!! Tak ada paksaan orang tua dalam menikah J  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar