Temen-temen, saya mau
share cerita. Buat kita yang belajar filsafat, buat kita yang sering keblinger
karena materi yang sama dijelaskan sudah berulang kali dan berulang juga
setelah dijelaskan gak ngerti, buat kita yang kadang bosan dan jenuh, semoga
ini bisa menjadi bahan renungan… belajar tak harus sekaligus faham, belajar tak
harus sekaligus ngerti saat itu juga, belajar itu proses panjang, proses yang
harus dinikmati, bukankah kenikmatannya para filosof itu adalah derita
pengetahuan? kalau kita menderita kala memahami satu materi, itulah saatnya
kita menyelam kenikmatan pengetahuan bukan. selamat membaca...
Disebuah negeri
Seorang anak tumbuh menjadi sosok yang hebat, sangat bijak dan disegani. Setiap
kali ia ditanyai oleh orang siapakah yang menjadikanmu seperti ini? ia akan
menjawab dengan jawaban yang sama, bahwa ibuku lah yang menjadikan aku seperti
ini.
Konon ketika ia
kanak-kanak ia termasuk anak yang mudah sekali bosan dengan palajaran dikelas,
itu alasannya kenapa ia sering membolos dari kelas dan kerap kali
melarikan diri dari kelas. Suatu hari ia merasa jengah dikelas dan selain itu
ia juga merasa sangat lapar, ia mencari-cari kesempatan untuk melarikan diri
dari kelas.
Kesempatan itu pun
akhirnya datang juga, tanpa pikir lama maka si anak kecil ini dengan segera
mengambil langkah seribu, melarikan diri. Ia senang sekali bisa melarikan diri
dari kelas yang membosankan itu. Sesampainya dirumah, ia bergegas mencari
makanan dan duduk diatas tumpukan kain sutera.
Anak ini memiliki
seorang ibu penenun sutera. Ibunya adalah seorang janda. Ia berjuang keras
menghidupi dan memenuhi kebutuhan hidup mereka sendirian setelah ditinggal mati
ayahnya. Ibunya heran ketika melihat dia pulang diwaktu yang sangat awal
sekali, dan dengan segera sang ibu mengetahui bahwa anaknya membolos. Ibunya
marah bukan main, kenapa kamu pulang? Ibu sungguh sangat tidak menyukai
perilaku tercelamu ini?!
Si anak pun menjawab.
Bu, sekolah itu membosankan, sekolah itu sulit bu. Aku ini bukan anak yang
pintar yang bisa dengan cepat mengikuti dan memahami pelajaran.
Sang ibu dengan cermat
mendengarkan jawaban sang anak tanpa sedikit pun menyelanya. Namun ia tetap
dalam keadaan marah dengan raut muka yang sangat meyeramkan karena tidak setuju
dengan ulah sang anak yang membolos dari sekolah. Melihat ibunya demikian maka
sang anak tak berani berucap sepatah kata pun lagi, ia menunduk. Merasa
bersalah.
Sang ibu tak
mengeluarkan sepatah kalimat pun selepas jawaban sang anak. Diam. Tanpa
mengkiraukan anaknya, sang ibu menarik satu helai kain sutera yang sedang
diduduki oleh sang anak lalu kemudian mengguntingnya menjadi dua bagian, kemudian
dibagi lagi menjadi empat, delapan, dan sampai tak bisa dipotong lagi.
Terus, terus dan terus
hal serupa dilakukan pada kain-kain selanjutnya yang sang anak duduki dengan
muka marah tanpa kata. Setiap kali sang ibu mengiris helaian sutera itu maka
hati sang anak pun ikut teriris.
Sang anak tahu kalau
ibunya janda, dan ia pontang panting menghidupi keluarga sendirian, dan hanya
ibunya lah yang menafkahi keluarga. Hanya dengan menenun dan menjahit kain
sutera ibunya bisa menafkahi keluarga. Seketika menyelinap kekhawatiran yang
luar biasa, ia takut bukan main menyaksikan ibunya marah besar, karena dengan
ibunya seperti itu, artinya ibunya akan merusak semua kain-kain sutera itu yang
selama ini menjadi sumber kehidupan mereka.
Sang anak tak tahan
melihat laku ibunya, lalu ia pun menangis kencang dan berlari kearah ibunya
lantas memeluk erat kaki sang ibu sambil berucap “ bu, aku berjanji bu, aku
takan pernah bolos sekolah lagi walaupun hanya sekali bu. Aku takan
mengulanginya lagi, walaupun aku tahu sekolah itu membosankan bu”.
Sang ibu memperhatikan
betul setiap kata yang meluncur dari mulut anaknya sembari memandangi wajahnya
dengan serius lalu berkata “ nak, kamu lihat potonga-potongan kain sutera ini.
benang-benang sutera itu ditenun sedikit demi sedikit baru bisa jadi sepotong
kain sutera. Setelah dapat sepotong terus kain ini ditenun sampai akhirnya
menjadi sehelai kain sutera yang indah dan lebar. Setelah itu, kain sutera
dipotong sesuai dengan ukuran yang dikehendaki maka jadilah pakaian yang indah.
Demikian juga dalam belajar nak, hasilnya tidak bisa dengan segera dilihat
sesaat setelah kamu mempelajarinya. Belajar itu sedikit demi sedikit nak, dan
ibu tahu itu sulit tapi itu bukan alasan untuk tidak belajar. Lihatlah kain
sutera itu, itu berbentuk karena ia dirajut dengan penuh perjuangan, kesabaran,
dan ketelatenan. Kamu belajar sedikit, paham, maka belajar lagi, tambah lagi
pemahamanmu sedikit demi sedikit supaya kamu bisa memahami lebih banyak lagi.
Setelah kamu mengerti maka kamu belajar lagi sampai kamu tambah mengerti dan
begitu seterusnya. Sampai nanti tiba saatnya kamu akan menyadari bahwa belajar
itu menyenangkan, menarik dan sangat bermanfaat. Lalu jika sekarang kamu
membolos, kamu tak akan mengerti apa yang diajarkan kepadamu, ketika kamu tidak
mengerti maka kamu tidak akan tahu bahwa belajar itu menyenangkan, menarik dan
sangat bermanfaat?
Kata-kata sang ibu
menghujam dalam sanubari sang anak. Dengan berlinang air mata sang anak bilang
kepada ibunya “ ibu, aku berjanji tidak akan pernah membolos lagi, aku akan
selalu belajar dikelas walaupun aku tahu kelas itu sangat membosankan, aku akan
bersungguh- sungguh dan melawan rasa bosan. Aku percaya betul kepada ibu bahwa
hanya dengan belajar sungguh-sungguh kelak aku akan menjadi orang yang berguna
bagi bangsa dan Negara.
Sejak saat itu sang
anak benar-benar menepati janjinya serta belajar dengan penuh kesungguhan dan
benar saja ia tumbuh menjadi orang yang hebat, pintar, mencintai ilmu
pengetahuan dan ia benar-benar menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan
negaranya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar