Pernahkah
kita memikirkan perjalanan sebuah ilmu hingga akhirnya sekarang memberikan
begitu banyak faedah dan kemudahan dalam hidup kita? Pernahkah kita memikirkan
siapa orang yang pertama kali menggagas ilmu tersebut dan siapa yang kemudian
mengembangkannya? Pernahkan kita sedikit bermurah hati untuk meluangkan waktu
dan sejenak mengurai simpul sejarahnya?
Sekarang, saya ingin sedikit mengendurkan kencangnya rasa penasaran mengenai siapa dan
dari mana berasalnya ilmu kimia, sejak lama rasa penasaran ini menggelayut
menggantungi ruang pikirku, saya membutuhkan banyaknya sumber dan bahan untuk
bisa menyimpulkan sesuatu tentang ini. Ini hanya sedikit pengetahuan saja dari
secuil bacaan yang baru saya jamah. saya ingin membaginya… saya ingin menyenggol
sedikit kesadaran sesiapa pun yang baca tulisan ini. saya ingin setiap orang
punya kesadaran bahwa sesungguhnya ilmu pengetahuan itu tidak serta merta
ditemukan dan menjadi mapan begitu saja, ia mengalami perjalanan yang panjang,
melalui panjangnya masa disemesta sehingga menemui kecemerlangan dan mendekati
kemapanan (saya tak ingin mengatakan kalau ilmu pengetahuan yang ada sekarang
sudah ada adalah ilmu yang mapan, rasionalisasinya adalah ilmu itu mengalami
pergerakan dan dari masa kemasa ia akan menjadi lebih dari sebelumnya, jadi
bagaimana saya bisa mengatakannya sebagai sebuah kemapanan jika esok hari sang
generasi setelah kita menemukan yang lebih mutakhir dan mapan dari sekarang?
Ya… ia mapan pada masanya dan esok hari ini akan terus melakukan perjalanan
revolusinya untuk mendekati sang maha sempurna, untuk sampai pada sang maha
mapan karena yang mapan disemesta ini tak ada, kita tak memilikinya, karena
yang memilikinya hanya Dia).
Baiklah
kita sekarang akan bicara tentang sebuah tema ilmu pengetahuan… kimia
lah namanya yang jika mendengarnya mungkin sebagian dari kita akan
memvisualisasikan sebuah laboraturium penuh aneka tabung kecil mungil berisi
zat yang berwarna warni dan memiliki bau khas yang terkadang bisa membuat kita
ingin muntah jika menciumnya terlalu dekat, akan terbayang jas putih dan sarung
tangan, akan tervisualisasi tabung spirtus, akan terlihat aquades dikepala
kita… ya setidaknya itu saya yang mengalaminya, dan itu benar adanya jika kimia
itu berkaitan dengan hal-hal seperti itu. Tapi pernahkah kita berpikir dari
mana tradisi semacam itu bermula? Oke mudah-mudahan ini adalah langkah kecil
yang akan menghantarkan kita pada pengetahuan yang lebih baik…
3000
tahun SM ilmu kimia sudah berkembang di Mesir kuno. Bayangkan 3000 tahun SM?
Orang Mesir kuno sudah ditemukan senyawa tertentu untuk proses mumifikasi (saya
piker ini erat kaitannya dengan jasad Firaun yang sampai detik ini masih utuh
tah terlapuk oleh zaman). Dan ini menyadarkan kita bahwa orang-orang zaman dulu
juga telah canggih, mereka tak sekuper yang kita sangkakan (paling tidak dalam
benak kita menganggap manusia dulu itu adalah manusia purba yang tak berbaju
dan berotak kecil… sttt… tahan dulu
prasangka kita, kita harus banyak berkaca dan menata ulang pemahaman kita tentang
itu karena ini sedikit tidak mungkin, bayangkan saja, mana mungkin jika mereka
– generasi pendahulu kita—berotak kecil
sampai bisa mewariskan sesuatu berupa ilmu pengetahuan yang merupakan
asset berharga dalam kehidupan?). lalu
1000 tahun SM mereka sudah mampu membuat logam-logam, obat-obatan, zat
pewarna, zat besi,dll. Betapa canggihnya mereka (jauh lebih canggih dari kita,
kita hanya menjadi konsumen setia pengetahuan bukan penggagas dan pionirnya.
Bahkan aku berpikir mereka malah lebih canggih dari kita-kita ini).
Empat
abad sebelum masehi, seorang Mesir kuno bernama Zosimos menggagas sebuah ide
bahwa logam biasa bisa dirubah menjadi emas (emas menjadi sesuatu yang berharga
dan bernilai jual tinggi. Ia diperebutkan bukan lantaran karena keemasannya,
karena ada sebuah nilai yang menjadikannya mulia – sabar ya… nanti dalam tema
selanjutnya dikesempatan yang lain aku akan membahasnya). Zosimos menyebutkan
sebuah unsure yang katanya bisa merubah logam biasa menjadi emas, nama senyawa
itu adalah xerion (jika diteteskan
pada setumpuk besi atau logam dan didiamkan selama 200 tahun, maka tumpukan itu
akan berubah menjadi emas). Wooowww… canggih.
saya belum
mendapatkan informasi yang lebih lanjut lagi tentang ini, namun saya menemukan
bahwa ilmu ini bersambung dan terus mengalami perkembangan. Dan perkembangan
ini berada ditangan orang Islam pada abad ke-7 H. ditangan Jabr Bin Hayyan ilmu
ini mengalami perkembangan yang pesat karena Jabr menggunakan sebuah metode
untuk mengembangkan ilmu ini, kualitatif lah metode yang digunakannya, ia
memberikan bukti empiris atas pengetahuannya, salah satu contohnya saja tentang
atom. Sebelum Jabr, Democritus sang filosof yunani kuno menggagas kalau alam ini
tersusun atas partikel yang terbagi
bernama atom, namun saat itu ia belum memberikan bukti empiris karena mungkin
keterbatasan alat yang dimiliki, bahkan mungkin ia sama sekali tak memiliki
alatnya (juga pada masa Democritus, gagasan tentang atom belum lagi diberi nama
atom). Bisa jadi. Nah, ditangan Jabr lah ini terbukti, bahwa benar semesta ini
tersusun dari partikel tak terbagi bernama atom. Lagi, ditangannya, proses
sublimasi, kristalisasi, penyulingan, oksidasin presitipasi, dan kalsinasi
ditemukan serta beberapa unsure –unsur kimia yang sampai kini namanya masih
digunakan (unsure dengan nama awal Al, adalah sumbangsih besar Jabr, Al kali
misalnya), selain itu ia juga sudah tahu dan ia menghitung bobot masing-masing
unsure. Satu lagi, Jabr juga pada zamannya sudah membagi unsure menjadi Logam
dan non logam… canggih betul… dan kita sekarang yang menikmatinya
saudara-saudara, paling tidak sebagai konsumsi pengetahuan. Penemuan
unsure-unsur kimia mengalami perjalanan panjang, sampai pada akhirnya seorang
ilmuwan barat bernama Dmitri Mandeveley
sekitar abad-18 menyusun dan menciptakan table periodic.
Oh ya…
mau tahu asal mula terma kimia? Dia berasal dari bahasa arab Al kimiya yang artinya perubahan materi.
Sok aja renungin, bukannya memang
benar kalau kimia itu kerjanya merubah sesuatu menjadi sesuatu yang lain? Eh…
ini pun ada hubungannya dengan orang mesir lho, mereka mengaitkan kimia dengan
terma alkemi yang artinya seni mesir,
inilah alasannya orang mesir dulu nyebut diri mereka sebagai kemis (penyihir sakti seluruh dunia).
Disini, saya menjadi sedikit narsis, kalau sebenarnya menjadi orang Islam itu sangat
membanggakan, bayangkan kita punya sosok seperti Jabr Bin Hayyan dan Beliau
baru satu dari sekian banyak bintang cemerlang dalam Islam. Berbanggalah jadi
orang Islam, karena orang Islam pendahulu kita telah mewariskan hal berharga
bagi generasi selanjutnya, walaupun dalam banyak hal dibajak oleh Barat dan
merekalah yang mengemuka menemukan banyak pengetahuan. Padahal mereka
mendapatkan pencerahan dari orang-orang muslim lewat karya-karyanya.
Berbicara
tentang pembajakan dan penjiplakan, dalam hal ini bangsa cina memainkan peran
penting. Nampaknya ilmu ini tak memang berkembang merata dibelahan-belahan bumi
yang berbeda dan menghasilkan kegunaan dan kecangguhan yang beragam pula untuk
memajukan peradaban manusia. Seperti halnya bangsa cina, bangsa cina pun
mengembangkan teknologi lewat kimia dan pada perjalanannya mereka menemukan
cara bagaimana meneyempurnakan pembuatan
kertas (sesuatu yang digunakan untuk menulis, yang pada zaman sebelumnya
menulis dilakukan diatas pelepah daun, tulang, batu, dsb). Dan setelah
ditemukannya kertas, maka tradisi menulis menjadi semakin meluas dan hasil
tulisan pun terdistribusi kebanyak tempat sehingga pengetahuan menyebar
kesegala arah,
Ilmu
kimia terlebih dahulu berkembang ditimur, baru kimia berkembang di Eropa. Itu
pun terjadi karena banyaknya karya orang muslim yang diimpor ke erofa lalu
mereka menterjemahkannya, sampailah sebuah karya jabr bin hayyan diterjemahkan
kedalam bahasa eropa. Tahukan kalian, bahwa buku Jabr ini dijadikan buku
panduan dan buku wajib disekolah-sekolah eropa selama beberapa abad.
Pasca
perang salib, rasa keingin tahuan orang barat berkobar sehingga kemarukan akan
pengetahuan dan kehausan mereka menjalari tubuhmereka dan pada akhirnya mereka
mengetahui bahwa dunia Islam lah yang bisa memberikan tegukan dan melerai rasa
haus mereka. Oleh karena itu, sejak saat itu banyak karya orang muslim
diterjemah kedalam bahasa mereka, dan seiring berjalannya waktu mereka
mendapatkan pencerahan lewat karya-karya orang muslim. []

Tidak ada komentar:
Posting Komentar