Jumat, 11 Januari 2013

Sekilas Perjalanan Kimia


Pernahkah kita memikirkan perjalanan sebuah ilmu hingga akhirnya sekarang memberikan begitu banyak faedah dan kemudahan dalam hidup kita? Pernahkah kita memikirkan siapa orang yang pertama kali menggagas ilmu tersebut dan siapa yang kemudian mengembangkannya? Pernahkan kita sedikit bermurah hati untuk meluangkan waktu dan sejenak mengurai simpul sejarahnya?


Sekarang, saya ingin sedikit mengendurkan kencangnya rasa penasaran mengenai siapa dan dari mana berasalnya ilmu kimia, sejak lama rasa penasaran ini menggelayut menggantungi ruang pikirku, saya membutuhkan banyaknya sumber dan bahan untuk bisa menyimpulkan sesuatu tentang ini. Ini hanya sedikit pengetahuan saja dari secuil bacaan yang baru saya jamah. saya ingin membaginya… saya ingin menyenggol sedikit kesadaran sesiapa pun yang baca tulisan ini. saya ingin setiap orang punya kesadaran bahwa sesungguhnya ilmu pengetahuan itu tidak serta merta ditemukan dan menjadi mapan begitu saja, ia mengalami perjalanan yang panjang, melalui panjangnya masa disemesta sehingga menemui kecemerlangan dan mendekati kemapanan (saya tak ingin mengatakan kalau ilmu pengetahuan yang ada sekarang sudah ada adalah ilmu yang mapan, rasionalisasinya adalah ilmu itu mengalami pergerakan dan dari masa kemasa ia akan menjadi lebih dari sebelumnya, jadi bagaimana saya bisa mengatakannya sebagai sebuah kemapanan jika esok hari sang generasi setelah kita menemukan yang lebih mutakhir dan mapan dari sekarang? Ya… ia mapan pada masanya dan esok hari ini akan terus melakukan perjalanan revolusinya untuk mendekati sang maha sempurna, untuk sampai pada sang maha mapan karena yang mapan disemesta ini tak ada, kita tak memilikinya, karena yang memilikinya hanya Dia).
Baiklah kita sekarang akan bicara tentang sebuah tema ilmu pengetahuan… kimia lah namanya yang jika mendengarnya mungkin sebagian dari kita akan memvisualisasikan sebuah laboraturium penuh aneka tabung kecil mungil berisi zat yang berwarna warni dan memiliki bau khas yang terkadang bisa membuat kita ingin muntah jika menciumnya terlalu dekat, akan terbayang jas putih dan sarung tangan, akan tervisualisasi tabung spirtus, akan terlihat aquades dikepala kita… ya setidaknya itu saya yang mengalaminya, dan itu benar adanya jika kimia itu berkaitan dengan hal-hal seperti itu. Tapi pernahkah kita berpikir dari mana tradisi semacam itu bermula? Oke mudah-mudahan ini adalah langkah kecil yang akan menghantarkan kita pada pengetahuan yang lebih baik…
3000 tahun SM ilmu kimia sudah berkembang di Mesir kuno. Bayangkan 3000 tahun SM? Orang Mesir kuno sudah ditemukan senyawa tertentu untuk proses mumifikasi (saya piker ini erat kaitannya dengan jasad Firaun yang sampai detik ini masih utuh tah terlapuk oleh zaman). Dan ini menyadarkan kita bahwa orang-orang zaman dulu juga telah canggih, mereka tak sekuper yang kita sangkakan (paling tidak dalam benak kita menganggap manusia dulu itu adalah manusia purba yang tak berbaju dan berotak kecil… sttt… tahan dulu prasangka kita, kita harus banyak berkaca dan menata ulang pemahaman kita tentang itu karena ini sedikit tidak mungkin, bayangkan saja, mana mungkin jika mereka – generasi pendahulu kita—berotak kecil  sampai bisa mewariskan sesuatu berupa ilmu pengetahuan yang merupakan asset berharga dalam kehidupan?). lalu  1000 tahun SM mereka sudah mampu membuat logam-logam, obat-obatan, zat pewarna, zat besi,dll. Betapa canggihnya mereka (jauh lebih canggih dari kita, kita hanya menjadi konsumen setia pengetahuan bukan penggagas dan pionirnya. Bahkan aku berpikir mereka malah lebih canggih dari kita-kita ini).
Empat abad sebelum masehi, seorang Mesir kuno bernama Zosimos menggagas sebuah ide bahwa logam biasa bisa dirubah menjadi emas (emas menjadi sesuatu yang berharga dan bernilai jual tinggi. Ia diperebutkan bukan lantaran karena keemasannya, karena ada sebuah nilai yang menjadikannya mulia – sabar ya… nanti dalam tema selanjutnya dikesempatan yang lain aku akan membahasnya). Zosimos menyebutkan sebuah unsure yang katanya bisa merubah logam biasa menjadi emas, nama senyawa itu adalah xerion (jika diteteskan pada setumpuk besi atau logam dan didiamkan selama 200 tahun, maka tumpukan itu akan berubah menjadi emas). Wooowww… canggih.
saya belum mendapatkan informasi yang lebih lanjut lagi tentang ini, namun  saya menemukan bahwa ilmu ini bersambung dan terus mengalami perkembangan. Dan perkembangan ini berada ditangan orang Islam pada abad ke-7 H. ditangan Jabr Bin Hayyan ilmu ini mengalami perkembangan yang pesat karena Jabr menggunakan sebuah metode untuk mengembangkan ilmu ini, kualitatif lah metode yang digunakannya, ia memberikan bukti empiris atas pengetahuannya, salah satu contohnya saja tentang atom. Sebelum Jabr, Democritus sang filosof yunani kuno menggagas kalau alam ini tersusun atas partikel yang  terbagi bernama atom, namun saat itu ia belum memberikan bukti empiris karena mungkin keterbatasan alat yang dimiliki, bahkan mungkin ia sama sekali tak memiliki alatnya (juga pada masa Democritus, gagasan tentang atom belum lagi diberi nama atom). Bisa jadi. Nah, ditangan Jabr lah ini terbukti, bahwa benar semesta ini tersusun dari partikel tak terbagi bernama atom. Lagi, ditangannya, proses sublimasi, kristalisasi, penyulingan, oksidasin presitipasi, dan kalsinasi ditemukan serta beberapa unsure –unsur kimia yang sampai kini namanya masih digunakan (unsure dengan nama awal Al, adalah sumbangsih besar Jabr, Al kali misalnya), selain itu ia juga sudah tahu dan ia menghitung bobot masing-masing unsure. Satu lagi, Jabr juga pada zamannya sudah membagi unsure menjadi Logam dan non logam… canggih betul… dan kita sekarang yang menikmatinya saudara-saudara, paling tidak sebagai konsumsi pengetahuan. Penemuan unsure-unsur kimia mengalami perjalanan panjang, sampai pada akhirnya seorang ilmuwan barat  bernama Dmitri Mandeveley sekitar abad-18 menyusun dan menciptakan table periodic.
Oh ya… mau tahu asal mula terma kimia? Dia berasal dari bahasa arab Al kimiya yang artinya perubahan materi. Sok aja renungin, bukannya memang benar kalau kimia itu kerjanya merubah sesuatu menjadi sesuatu yang lain? Eh… ini pun ada hubungannya dengan orang mesir lho, mereka mengaitkan kimia dengan terma alkemi yang artinya seni mesir, inilah alasannya orang mesir dulu nyebut diri mereka sebagai kemis (penyihir sakti seluruh dunia).
Disini, saya menjadi sedikit narsis, kalau sebenarnya menjadi orang Islam itu sangat membanggakan, bayangkan kita punya sosok seperti Jabr Bin Hayyan dan Beliau baru satu dari sekian banyak bintang cemerlang dalam Islam. Berbanggalah jadi orang Islam, karena orang Islam pendahulu kita telah mewariskan hal berharga bagi generasi selanjutnya, walaupun dalam banyak hal dibajak oleh Barat dan merekalah yang mengemuka menemukan banyak pengetahuan. Padahal mereka mendapatkan pencerahan dari orang-orang muslim lewat karya-karyanya.
Berbicara tentang pembajakan dan penjiplakan, dalam hal ini bangsa cina memainkan peran penting. Nampaknya ilmu ini tak memang berkembang merata dibelahan-belahan bumi yang berbeda dan menghasilkan kegunaan dan kecangguhan yang beragam pula untuk memajukan peradaban manusia. Seperti halnya bangsa cina, bangsa cina pun mengembangkan teknologi lewat kimia dan pada perjalanannya mereka menemukan cara bagaimana  meneyempurnakan pembuatan kertas (sesuatu yang digunakan untuk menulis, yang pada zaman sebelumnya menulis dilakukan diatas pelepah daun, tulang, batu, dsb). Dan setelah ditemukannya kertas, maka tradisi menulis menjadi semakin meluas dan hasil tulisan pun terdistribusi kebanyak tempat sehingga pengetahuan menyebar kesegala arah,
Ilmu kimia terlebih dahulu berkembang ditimur, baru kimia berkembang di Eropa. Itu pun terjadi karena banyaknya karya orang muslim yang diimpor ke erofa lalu mereka menterjemahkannya, sampailah sebuah karya jabr bin hayyan diterjemahkan kedalam bahasa eropa. Tahukan kalian, bahwa buku Jabr ini dijadikan buku panduan dan buku wajib disekolah-sekolah eropa selama beberapa abad.
Pasca perang salib, rasa keingin tahuan orang barat berkobar sehingga kemarukan akan pengetahuan dan kehausan mereka menjalari tubuhmereka dan pada akhirnya mereka mengetahui bahwa dunia Islam lah yang bisa memberikan tegukan dan melerai rasa haus mereka. Oleh karena itu, sejak saat itu banyak karya orang muslim diterjemah kedalam bahasa mereka, dan seiring berjalannya waktu mereka mendapatkan pencerahan lewat karya-karya orang muslim. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar